Ilustrasi judi online pelajar
Deskripsi Sistematis Hasil Wawancara
Dengan Sentuhan Kritik Metodologis dan Sanggahan Logis
A. Identitas Informan
Wawancara dilaksanakan pada hari Jumat, 17 Juli 2025, bersama Yogi Firmansyah Nurul Hakim, siswa SMA N 1 Jakenan.
B. Latar Belakang dan Alasan Remaja Terlibat Judi Online
Informan menyatakan bahwa tawaran keuntungan cepat membuat remaja tergoda judi online. Data PPATK 2025 memperkuat hal ini: sekitar 8,8 juta pemain, 80% dari kelompok ekonomi rentan. Namun, perlu dikritisi bahwa wawancara hanya diambil dari satu informan, sehingga generalisasi alasan ini berisiko kurang mewakili keragaman situasi di lapangan. Studi lain menyebut, faktor sosial, tekanan kelompok sebaya, dan lingkungan keluarga juga berpengaruh signifikan pada keterlibatan remaja dalam judi daring, yang tidak seluruhnya tergali dari laporan tunggal.
C. Pola Perilaku dan Pengalaman Pribadi
Paparan informan soal adrenalin dan adiksi “balik modal” didukung teori penguatan sesekali (intermittent reinforcement). Namun demikian, literature menyatakan perilaku adiktif itu sangat dipengaruhi oleh motivasi personal, sejarah keluarga, dan akses terhadap edukasi digital — variabel-variabel ini belum banyak dieksplorasi secara metodologis dalam laporan ini. Selain itu, pelibatan lebih banyak informan sangat dianjurkan agar temuan lebih kredibel.
D. Dampak Negatif yang Dirasakan
Kehilangan uang, hubungan sosial yang terganggu, dan tekanan pinjaman memang relevan dan didukung penelitian nasional serta beberapa jurnal. Namun, perlu disanggah bahwa dampak semacam kriminalitas atau penurunan moral sering kali dikaitkan tanpa data primer yang kuat, sehingga dibutuhkan triangulasi data (misal, data laporan polisi, survei komunitas, atau data sekolah) untuk menguatkan kesimpulan.
E. Saran dan Tindakan Preventif
Anjuran informan untuk meningkatkan literasi digital sejalan dengan rekomendasi kebijakan nasional. Namun, perdebatan dalam kajian hukum dan edukasi menunjukkan bahwa kebijakan preventif belum sepenuhnya efektif mengingat praktik situs judi banyak berbasis luar negeri dan susah dikendalikan, sehingga masih ada celah kebijakan dan penegakan hukum. Efektivitas edukasi digital juga tergantung pada kualitas sumber daya manusia dan koordinasi antar-lembaga terkait.
F. Kritik dan Sanggahan Metodologis
- Keterbatasan Data: Wawancara terbatas satu informan memunculkan risiko bias dan ketiadaan konfirmasi lintas-narasumber (triangulasi)[4].
- Validitas Temuan: Studi serupa di jurnal menyarankan kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk validasi mendalam (misal, survei, FGD, dan dokumentasi resmi)[4][5].
- Asumsi Pengaruh Faktor: Adanya variabel lain selain kemudahan akses — seperti pengaruh keluarga, kualitas pendidikan, dan status sosial-ekonomi — yang tidak cukup tergali, sehingga perlu pendekatan yang lebih komprehensif dan sistematis.
H. Kesimpulan dengan Sentuhan Kritik
Judi online di kalangan remaja adalah masalah nyata yang terkonfirmasi data nasional. Namun, penjelasan tunggal berdasarkan wawancara satu informan memiliki keterbatasan dalam representasi dan validitas. Untuk menghasilkan simpulan yang teruji, sangat penting:
- Melibatkan lebih dari satu narasumber dari latar berbeda.
- Menggunakan triangulasi data: kombinasi wawancara, survei, dan data sekunder.
- Menguji variabel sosiologis lain secara sistematis dalam riset lanjutan.