Resistensi Masyarakat Samin di Era Globalisasi (Menurut Claricha Dinda Anandhita (06)
Pendahuluan
Perubahan sosial merupakan fenomena yang terus berlangsung dalam masyarakat. Gerakan sosial masyarakat adat Samin menjadi contoh penting dalam memahami perubahan sosial yang melibatkan aspek budaya, ekonomi, politik, dan lingkungan. Artikel ini mengidentifikasi dan menganalisis unsur-unsur perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Samin di tengah tekanan pembangunan di era globalisasi, khususnya terkait resistensi terhadap pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng.
Pembahasan
1. Bidang Perubahan
Perubahan sosial yang terjadi terdiri dari beberapa bidang:
- *Sosial budaya:* Perubahan pola hidup, nilai, dan interaksi masyarakat Samin dengan masyarakat luar, serta upaya pelestarian budaya.
- Ekonomi: Ancaman terhadap profesi pertanian yang menjadi mata pencaharian masyarakat Samin akibat pembangunan pabrik semen.
- *Politik:* Resistensi masyarakat terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan.
- *Lingkungan:* Perubahan dan ancaman kerusakan lingkungan di Pegunungan Kendeng yang menjadi habitat dan sumber penghidupan masyarakat Samin.
2. Lokasi
Perubahan sosial ini terjadi di wilayah masyarakat Samin yang mencakup Kabupaten Pati, Rembang, Kudus, dan Blora di Pulau Jawa, dengan fokus utama konflik sosial di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah.
3. Waktu
Gerakan Saminisme berakar sejak akhir abad ke-19 (era kolonial Belanda) dan terus berlangsung hingga era globalisasi saat ini, dengan dinamika baru akibat pembangunan industri semen yang mengancam kelestarian adat dan lingkungan.
4. Aktor dan Orang yang Terlibat
Aktor utama dalam perubahan ini adalah masyarakat Samin, termasuk tokoh pendiri Samin Surosentiko dan kelompok Sedulur Sikep. Selain itu, pemerintah (kolonial Belanda dan Republik Indonesia), pengembang pabrik semen, serta masyarakat non-Samin yang mendukung atau menolak pembangunan juga terlibat dalam proses perubahan sosial ini.
5. Sumber Daya
Perubahan sosial didukung oleh berbagai sumber daya:
- Sumber daya alam Pegunungan Kendeng yang menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat Samin.
- Budaya dan hukum adat sebagai landasan ideologi dan norma sosial.
- Pola komunikasi tradisional (gethok tular) yang berperan penting dalam menyebarkan informasi dan membangun solidaritas, serta adaptasi dengan teknologi komunikasi modern di era globalisasi.
6. Proses Terjadinya
Proses perubahan ini melalui fase historis resistensi terhadap kolonialisme lewat penolakan pajak dan kebijakan tidak adil, berkembang menjadi gerakan sosial tanpa kekerasan berlandaskan nilai tradisional. Di era globalisasi, perubahan termasuk resistensi terhadap pembangunan pabrik semen melalui penyebaran informasi menggunakan pola gethok tular serta interaksi sosial yang lebih terbuka.
7. Siapa yang Mendapat Untung dan Rugi
- Untung: Masyarakat Samin dan lingkungan jika kelestarian budaya dan alam terjaga, serta generasi masa depan yang mewarisi lingkungan lestari.
- *Rugi:* Pengembang dan investor pabrik semen jika proyek tertunda, pemerintah yang fokus pada pembangunan industri tanpa memperhatikan dampak sosial, dan masyarakat Samin apabila pembangunan tetap dilaksanakan tanpa kompromi.
8. Dampak
- Positif: Menumbuhkan kesadaran pelestarian lingkungan dan budaya lokal, memperkuat solidaritas masyarakat, serta menginspirasi gerakan sosial berbasis kearifan lokal.
- Negatif: Potensi konflik sosial, kemungkinan hilangnya sumber penghidupan adat, dan tekanan kehidupan sosial masyarakat Samin.
9. Solusi
Solusi yang diusulkan meliputi:
- Penggunaan pola komunikasi gethok tular sebagai mekanisme efektif penyebaran informasi dan penggalangan dukungan.
- Pelibatan masyarakat adat dalam proses perencanaan pembangunan untuk menghormati hak dan budaya mereka.
- Perlindungan hukum terhadap hak-hak masyarakat adat berdasarkan konstitusi (UUD 1945 Pasal 18B ayat 2).
- Pendekatan tanpa kekerasan dengan berpegang pada nilai-nilai adat dan budaya.
- Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, dan kelompok masyarakat lainnya untuk mencari pembangunan yang berkelanjutan.
Penutup
Gerakan masyarakat Samin merupakan contoh konkret bagaimana perubahan sosial berlangsung melalui perjuangan mempertahankan identitas budaya, kelestarian lingkungan, dan sumber penghidupan di tengah arus modernisasi dan globalisasi. Pemahaman menyeluruh terhadap unsur-unsur perubahan sosial ini penting agar pembangunan tidak mengorbankan hak dan kelestarian masyarakat adat. Melalui pendekatan yang inklusif dan berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal, diharapkan pembangunan yang berkelanjutan dapat tercapai tanpa menimbulkan kerugian sosial maupun ekologis.
